Sabtu, 29 Desember 2012

Makna Sholat Yang Tercantum Dalam Al - Qur'an

Shalat adalah bagian dari jawaban Allah atas permintaan

petunjuk dari orang-orang  beriman. Kepada siapa permintaan itu

diminta dan seperti apa permintaan yang diajukan, kita simak surah Al

Fatihah (Pembuka), semoga hati dan pikiran kita dapat terbuka:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1:1)

Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam (1:2)

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1:3) 

Yang menguasai hari pembalasan (1:4)

Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah kami

memohon pertolongan (1:5)

Tunjuki kami jalan yang lurus (benar) (1:6)

(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat atas mereka,

bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan (jalan)

orang-orang yang sesat (1:7)

 

Pada ayat 1-4, di situ ada Allah, Ar Rahman, Ar Rahim, Al Hamid, Al

Malik. Pengenalan terhadap Allah dan sifat-sifatNya merupakan awal

agama (awaluddin ma'rifatullah), kata seorang guru Agama. Pengenalan

tersebut membawa manusia beriman kepada kesadaran perlunya mengabdi,

tegasnya menghamba, kepada Al Malik. Karena manusia yang butuh, maka

mereka minta petunjuk cara menghambakan diri, yang terangkum dalam

ayat 5-7. 

Jawaban Allah atas permintaan petunjuk cara menghambakan diri yang

diajukan orang-orang yang beriman diberikan pada surah Al Baqarah

ayat 1-5, dan petunjuk yang sama dengan redaksi sedikit berbeda

diberikan pada surah Lukman, juga pada ayat 1-5:

Alif lam mim (2:1)

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, (sebagai)

petunjuk bagi orang-orang yang takwa (2:2).

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib dan yang mendirikan

shalat dan yang menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan

kepada mereka (2:3).

Dan orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah

diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu

dan mereka yakin terhadap hari akhirat (2:4).

Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan

mereka itulah orang-orang yang beruntung (2:5).

 

Alif lam mim (31:1)

Inilah ayat-ayat Al Qur'an  (tilka ayatu al-kitabi) yang mengandung

hikmat (31:2).

Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan

(31:3).

(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan

mereka meyakini (kehidupan) akhirat (31:4).

Mereka itulah (orang-orang) yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka,

dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (31:5).

 

Petunjuk yang Allah berikan adalah Kitab (Al Qur'an)(2:2) dan ayat-

ayat Kitab (Al Quran)(31:2). Agar orang-orang yang beriman mendapat

petunjuk, yaitu mentaati petunjuk yang diberikan, maka mereka harus

mendirikan shalat. Jika demikian halnya, agar mudah dimengerti,

seharusnya tidak dikatakan mendirikan shalat, tetapi mendirikan

petunjuk. Tidak sesederhana itu. Orang-orang yang beriman teramat

sangat beragam, pria, wanita, beragam tingkat umur, beragam profesi,

beragam masalah, beragam kemampuan, dan berbagai keragaman lainnya.

Mereka semua minta petunjuk kepada Allah. Setiap individu beriman

adalah khas dan memiliki kekhususan sendiri-sendiri, dan jika setiap

individu diberi petunjuk sendiri-sendiri maka tidak terbayangkan

betapa rumitnya kitab petunjuk yang harus diberikan. Karena itu,

secara kolektif dijawab oleh Allah: Ini Kitab (2:2), ini ayat-ayat

Kitab (31:2) sebagai petunjuk. Petunjuk tersebut tentunya harus

ditaati sebagai wujud penghambaan orang beriman kepada Allah.

Mentaati petujuk oleh setiap individu itulah yang diistilahkan dengan

mendirikan shalat. Tidak dikatakan mendirikan petunjuk, karena

petunjuk kolektif berupa Kitab atau ayat-ayat Kitab tidak semuanya

harus ditaati. Berhenti mengutib riba misalnya, hanya harus ditaati

oleh rentenir. Orang beriman lainnya tidak perlu harus jadi rentenir

dahulu, setelah itu berhenti mengutib riba, hanya untuk mentaati

petunjuk yang memerintahkan agar berhenti mengutib riba.

        Mendapat petunjuk dalam uraian di atas dimaknai sebagai

mentaati petunjuk dipahami dari ayat berikut:

Katakanlah: "Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, maka

jika kamu berpaling, maka sesungguhnya atas Rasul itu hanyalah apa

yang dibebankan kepadanya, dan (kewajiban) atas kamu yang dibebankan

atasmu, dan jika kamu mentaatinya (tentu) kamu mendapat petunjuk, dan

tidaklah (kewajiban) atas Rasul itu kecuali penyampaian (amanat

Allah) dengan terang" (24:54).

        Ketaatan terhadap petunjuk secara individu, atau mendirikan

shalat,  diwujudkan dengan berbagai cara. Dalam berdagang misalnya,

diperintahkan jujur dan tidak curang, seperti dijelaskan dalam ayat

berikut:

Kecelakaan bagi orang-orang yang curang (83:1)

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain

mereka minta dipenuhi (83:2)

Dan apabila mereka menakar untuk orang lain atau mereka menimbang

untuk orang lain, mereka mengurangi (82:2).

 

Pedagang banyak ragamnya, antara lain:  pedagang minyak dan pedagang

daging.  Pedagang minyak mendirikan shalat dengan menakar minyak

dagangannya dengan cukup, dan pedagang daging mendirikan shalat

dengan menimbang daging yang dijualnya dengan cukup. Hal tersebut

merupakan shalat utama pedagang minyak dan pedagang daging, disamping

tentunya banyak lagi shalat lainnya yang harus mereka dirikan

tergantung situasi kehidupan yang mereka hadapi. Agar dapat

mendirikan shalat maka petunjuk dalam Kitab harus dibaca. Demikian

yang dijelaskan dalam Al Qur'an:

 

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab (Al Qur'an)

dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari

perbuatan keji dan mungkar, dan sungguh mengingat Allah (shalat)

adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan

Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (29:45).

 

Sesungguhnya orang-orang yang (selalu) membaca kitab Allah dan mereka

mendirikan shalat dan menafkahlan sebagian rezki yang telah Kami

berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan  terang-terangan,

mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi (35:29).

 

Jelas dan tegas kedua ayat di atas menyatakan membaca Kitab merupakan

langkah awal dalam mendirikan shalat. Apa yang dijelaskan oleh Al

Qur'an tersebut berbeda dengan ritual shalat yang umum dilakukan,

yaitu Al Qur'an dibaca ketika sedang shalat. Mengikuti Al Qur'an,

membaca Kitab sebelum mendirikan shalat akan sangat memudahkan

memperoleh berbagai petunjuk dan penjelasan yang diperlukan. Dalam

membaca Kitab, jika ada yang tidak dimengerti akan sangat leluasa

membuka buku lainnya yang diperlukan atau bertanya, sementara membaca

Kitab (Al Qur'an) ketika sedang ritual shalat, gerak sangat terbatas

dan tidak boleh bertanya ketika petunjuk yang ada dalam Al Qur'an

yang dibaca tidak dipahami. Hal lainnya yang berbeda, pada berbagai

Ayat yang telah dikemukakan, dijelaskan bahwa shalat berkaitan sangat

erat dengan Kitab, bukan dengan rukuk dan sujud seperti pada ritual

shalat. Ayat berikut secara spesifik lebih memperjelas hubungan yang

sangat erat antara shalat dengan Kitab:

  

Dan orang-orang yang  berpegang teguh dengan Kitab dan mereka

mendirikan shalat, sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala

orang-orang yang mengadakan perbaikan (7:170).